Siapa aku?


pepy-ok-zon2strong>

Konsep diri adalah bagaimana kita mengenal, menilai dan mampu mempersepsikan diri kita dalam kondisi tertentu


Mengenal dan memahami diri sendiri ternyata lebih sulit daripada mengenal dan memahami orang lain. Yah, hal itulah yang selama ini saya alami. Saya lebih suka mempersepsikan dan menilai perilaku orang lain, sampai-sampai saya lupa dengan kepribadian dan perilaku saya sendiri.
Jujur, saya kurang bisa menilai siapa diri saya. Bahkan ketika disuruh menyebutkan 5 kelebihan dan 5 kekurangan saya saja, Saya sudah angong duluan. Bener-bener gak tau diri. Yah itulah saya, semoga hal separah ini gak dialami oleh yang baca tulisan ini. Konsep tentang diri lebih dominan saya dapatkan dari orang-orang terdekat saya seperti keluarga, dan teman-teman dekat. Persepsi mereka tentang saya, kemudian saya tampung dalam benak untuk kemudian saya jadikan modal dalam mempersepsikan diri saya.

Dalam keluarga misalnya. Orang tua saya seringkali menganggap bahwa saya adalah sosok yang pendiam, tidak banyak bicara. Hal itu mereka dapatkan dari perilaku saya yang cenderung diam saat diajak bicara.

Mereka biasanya kesal dengan sikap saya yang cenderung tertutup. Terlebih ketika saya menginginkan sesuatu dan tidak mengkomunikasikanya dengan mereka. Saya biasanya canggung untuk mengkomunikasikan permasalahan saya dengan orang tua saya dan cenderung mengkomunikasikannya dengan teman-teman terdekat.

Hal tersebut kemudian menjadi pemikiran tersendiri bagi saya. Saya menilai ada yang salah dengan prilaku saya yang cenderung tertutup dengan orang terdekat. Semestinya saya harus terbuka dengan orang tua saya karena walau bagaimanapun mereka lebih mengenal siapa diri saya ketimbang teman-teman.
*****

Konsep diri yang kemudian terlahir ialah kurang beraninya saya untuk mengatakan sesuatu dengan lawan jenis yang saya sukai. Saya seringnya menyukai seseorang namun tidak kuasa mengatakan kalau saya sebenarnya suka. Saya cenderung memendam perasaan saya, dan menutupnya rapat-rapat meskipun terkadang menyakitkan.

Sebagai contoh, pada masa SMA, saya pernah Falling in love dengan teman dekat saya. Perasaan suka itu timbul, karena adanya factor kedekatan dan perhatian berlebih yang deberikannya kepada saya. Saya sebenarnya sangat menyukai dia namun apalah daya saya tidak kuasa mengatakannya (cemen).

Perasaan itu akhirnya saya pendam selama kurang lebih dua tahun. Dan selama itu pula saya merasakan peradangan yang begitu menyiksa dan menyakitkan hati saya. Meski sadar akan hal tersebut, namun tetap saja saya belum berani mengungkapkannya.
*****

Selama ini banyak diantara teman- teman dekat saya menilai bahwa saya adalah sosok yang suka marah-marah. Persepsi tersebut mereka dapatkan dengan melihat gaya berbicara saya dengan nada tinggi.

Persepsi di atas membuat saya berupaya mengintrospeksi diri saya. Ada benarnya memang, meskipun tidak semuanya benar. Saya memang sering berbicara dengan nada tinggi meskipun dengan teman-teman saya.
Hal tersebut akan lebih terlihat manakala saya berbeda pendapat dengan mereka. Saya biasanya berupaya mempertahankan pendapat yang saya nilai benar dan terkadang lupa dengan status mereka sebagai teman dekat saya.

Terkadang hal di atas membuat saya berbicara dengan nada yang tinggi dan membuat lawan bicara merasa terpojokkan yang menganggap bahwa saya sedang marah – marah dengannya. Hmm..egois kali ya…

Sebenarnya tidak demikian, saya hanya sedang berupaya mempertahankan argumen saya. Sebagai contoh, pada saat digelarnya diskusi dalam organisasi yang saya geluti.
Saya terkadang berbeda opsi dengan rekan dekat saya. Namun opsi yang menurut saya benar akan berusaha saya pertahankan dengan upaya mengalahkan opsi dari rekan-rekan saya. Nada bicara yang tinggi, membuat mereka menyangka bahwa saya sedang marah dengan mereka.

Namun tidak demikian, saya hanya mencoba memberikan apa yang menurut saya benar. Saya yakin ini adalah kebenaran dan rekan-rakan saya harus tau itu. Akhirnya terjadilah perdebatan panjang..Dan seringnya saya menang. Tapi bukan kemenangan berdebat yang saya cari, melainkan menyamakan persepsi untuk kebaikan bersama.

Hal di atas kemudian menjadi catatan tersendiri bagi saya dalam bersikap. Saya kemudian berupaya memperbaiki sikap saya terseb ut dengan upaya mengintrospeksi diri.

Akhirnya saya sadar, meskipun tujuan saya baik namun ternyata cara yang saya tempuh terlalu seringnya salah di depan rekan-rekan saya. Nada bicara yang tinggi, menjadi penyebab utama timbulnya persepsi negative tentang saya, meskipun tidak demikian halnya.

Konsep tentang diri saya yang lain ialah adanya sikap malas. Saya sering kali memiliki keinginan berlebih untuk mendapatkan sesuatu. Namun lucunya saya tidak berupaya melakukan sesuatu untuk mendapatkan hal tersebut. Yang ada, saya hanya terlena dengan khayalan yang melambung tinggi namun kosong aplikasi.

Saya sebenarnya sadar betul akan hal tersebut. Namun meski demikian sifat malas ternyata mampu menutupi semua keinginan saya. Saya seringkali merenungi kebodohan saya dan selalu bertanya pada diri sendiri, mana mungkin saya bisa mendapatkan sesuatu tanpa adanya upaya untuk mewujudkannya dengan perbuatan.

Hal ini kemudian menimbulkan persepi tersendiri yang cenderung negative terhadap diri saya. Saya cenderung terjebak dalam kurungan pola pikir yang menganggap diri saya tidak mampu untuk melakukan sesuatu seperti apa yang saya inginkan sebelumnya.

Hmm.. itulah sekelumit konsep diri tentang saya. Hmm..aneh ya ama diri sendiri aja gak kenal..

Gimana dengn anda? apakh anda bernasib sama?

Belajar Web di Wira Garden


Dua puluh sembilan peserta Pelatihan Manajemen Website se Sumatera UKPM Teknokra tengah asyik mengikuti sesi praktek pembuatan web portal lewat  wordpress, Senin (17/10) di aula taman wisata Wira Garden. Kursus yang akan ditaja selama 4 hari itu diampu oleh Agung Riyadi dari Yayasan Air Putih.

Sebelumnya, peserta utusan dari Lembaga Pers Mahasiswa se Sumatera itu telah mengikuti workshop pembuatan blog “Nge Blog biar (gak) Go Blog” pada Sabtu, (15/10) di Pondok Aula Kelapa Universitas Lampung. Workshop yang juga diikuti peserta dari umum tersebut diisi oleh Andreas Harsono (Pantau), dan Budi Putra (viki.com).

Pada Minggu (16/10), Andreas juga mengisi materi tentang citizem jurnalism dan bagaimana pers mahasiswa menghadapi dunia internet.

SKEPTIS


Adam Pennenberg, seorang jurnalis di media internet Forbes Digital Tool benar-benar tak habis pikir setelah mendapati tulisan “Hack Heaven” termuat di Koran The New Republic. Ia menggumam banyak tanya. Bagaimana bisa ia tak tahu hingga tak menuliskan laporan serupa pada medianya. Ia pun hanya menggeleng saat editornya, Kambiz Foroobar, mengiterogasinya.

Adam lalu membaca dan memahami setiap kata karya jurnalis The New Republic, Stephen Glass itu. Ia melakukan verifikasi lewat internet untuk mencari nama-nama tokoh serta perusahaan yang dituliskan Steve. Berondongan pertanyaan pun ia hujamkan pada Steve di hadapan redaktur Steve, Chuck. Steve memberi jawaban yang tak masuk akal. Perlahan ia mulai ragu dengan kebenaran cerita dan sampai pada kesimpulan, Steve hanya mengarang cerita.

Sikap Adam menimbulkan kecurigaan pada Chuck atas reputasi Steve. Chuck pun ikut-ikutan memverifikasi sumber dan lokasi dimana tempat Steve meliput peristiwa. Hasilnya, fakta tak bisa dibuktikan, ilusi. Chuck lalu membuka arsip tulisan Steve pada majalah The New Republic yang telah terpublis. Hasilnya mencengangkan, 27 dari 45 artikel yang ditulis Steve sejak 1995-1998 hanyalah cerita fiktik semata.

***

Kisah diatas adalah realitas yang pernah terjadi pada dunia jurnalisme Amerika Serikat yang difilmkan lewat Shatered Glass. Film ini memberi gambaran bahwa praktik jurnalisme yang mensucikan fakta juga bisa diselewengkan bila tak didasari pemahaman atas nilai-nilai jurnalisme. Selebihnya, upaya verifikasi sebagai intisari jurnalisme cenderung dilupakan oleh awak media.

Namun yang perlu digarisbawahi dari film garapan Billy Ray itu adalah sikap skeptis yang dipunya Adam dan Chuck. Sikap keraguan atas cerita yang dianggap benar banyak pembaca, memacu terkuaknya praktik kebohongan Steve. Bisa dibayangkan, bagaimana Steve telah melakukan kebohongan besar pada pembaca selama bertahun-tahun demi popularitas dan pujian atas tulisannya.

Sikap skeptis yang menjadi ciri utama jurnalisme menempatkan wartawan untuk melihat fakta lebih jauh. Tak sekadar percaya pada tampak luar dan mengangguk pada realitas ala kadarnya. Skeptis sebenarnya lebih dari paham para filsuf yang sekadar menanyakan sebuah jawaban. Ia tak sebatas bertanya, tapi berupaya membuktikannya lewat penelusuran mendalam—verifikasi.

Thomas Friedman dari New York Time mengatakan, skeptis adalah sikap yang selalu mempertanyakan segala sesuatu, meragukan apa yang diterima, dan mewaspadai segala kepastian agar tidak mudah ditipu. Disiplin verifikasi menjadi alat selanjutnya untuk memberi jawaban atas keraguan.

Coba tengok, bagaimana jurnalisme mampu menguak berbagai tindak kejahatan dan kebusukan. Bagaimana kebohongan bisa diungkap dan kebenaran bisa dimunculkan. Itu semua tak lepas dari sikap skeptis yang memang wajib dimiliki wartawan. Tanpa itu, mustahil sekelas kebohongan kecil yang sekalipun tampak bisa diungkap. Prinsipnya, media takkan pernah bisa mengungkap berbagai penyimpangan, kebusukan berbalut tampilan manis tanpa modal dasar skeptis.

Sikap skeptis dengan memperhitungkan efek positifnya tentu bukan sekadar milik wartawan. Ia juga bisa dipakai di berbagai sendi kehidupan. Pada tiap pribadi manusia dengan berbagai dialektikanya. Ia bisa jadi modal dasar untuk melihat dan menafsir berbagai realitas yang sepertinya benar lewat tampilan namun salah pada substansinya.

Sepotong Kisah di Dermaga


Pertemuan itu menjadi obat penawar rindu saya padanya. Di dermaga Pelabuhan Merak pada Sabtu-Minggu, (4-5/02) kami bertemu. Melepas rindu setelah sebulan lamanya tak jumpa.

Ia datang dengan seorang teman yang juga saya kenal. Mereka punya misi melakukan peliputan. Ia lebih  dulu meminta saya untuk menemuinya. Saya yang berada di Jakarta tak mau menyiakan kesempatan itu. Hey… saya juga rindu, kenapa tidak?

Sabtu siang, saya menumpang (berbayar) kereta Api jurusan Stasiun Tanah Abang–Merak. Suasana kereta api luar biasa sesak, gerahnya minta ampun hingga mandi keringat. Maklum, kereta ekonomi. Ongkosnya yang murah meriah dan langsung menuju tempat tujuan menjadi alasan saya memilihnya. Meski sering kesal karena berdesak-desakan, tapi bayangan untuk bertemu dengannya membuat semuanya terasa enjoy.

Berangkat sejak pukul 14.00, saya tiba di Merak jelang magrib. Dia memberi kabar, kapal yang ia tumpangi sebentar lagi merapat. Wah, rasa ingin bertemu semakin menggebu. Tak sabar.

Saya langsung menuju ruang tunggu kedatangan penumpang dari Lampung. Tak lama, kapal yang dinanti datang. Rupanya, ia melewati jalan lain karena tengah mengejar narasumbernya. Saya pun menunggunya di koridor dekat Mushola pelabuhan.

Hey…dia kini di depan saya. Rasa grogi sempat hinggap. Senang sekali bisa kembali menatapnya. Dia tambah manis dari sebelum kami berpisah sebulan yang lalu. Kali ini bukan karena bedak yang menempel di muka, tapi aura yang ia hadirkan. Kami pun larut dalam obrolan, bertukar kabar.

Malam Minggu itu, angin laut bertiup sedang nan bersahabat. Kami duduk di pinggiran dermaga menatap laut yang gelap. Saya benar-benar menikmati malam itu. Kami larut dalam canda dan obrolan hangat. Angin laut menambah suasana menjadi syahdu.Seingat saya, tak pernah saya menjumpai malam seindah ini.hem…

Kami lalu menuju dermaga 4. Misinya belum usai. Niatnya hendak mengantar ia menaiki kapal menuju pelabuhan Bakauheni. Saya menemaninya. Sekitar pukul 23.00 itu kami duduk di kursi dermaga, menanti kapal Jatra III tiba.

Sungguh moment yang menyenangkan. Kami larut dalam obrolan manja (hehe). Juga berangan tentang masa depan. Ya…tentang masa depan hubungan kami berdua. Soal peragaan cincin di jari manisnya, biarlah cuma kami yang merasakannya (hehe). Candaan yang membuat jantung berdegup.

Hey… tiba-tiba saja ia punya ide romantis. Ia ingin kami berdua menuliskan harapan di botol mineral dan melemparnya ke laut. Wah,,,seperti kisah film saja. Saya menurutinya. Di selembar kertas itu saya menuliskan besar-besar “I LOVE U SO MUCH”. Ia lalu membalas dan menuangkan harapannya. Tapi saya sendiri tak boleh tau apa isinya. Belakangan baru saya tahu, ia menuliskan keinginannya untuk selalu bersama. Wah… senangnya.

Ia terlihat lelah. Maklum sudah seharian ia menjalankan misinya. Bayangkan, dalam sehari itu saja, ia sudah tiga kali bolak-balik naik kapal Bakauheni-Merak, Merak-Bakauheni, lalu kembali lagi ke Merak.

Ya ampun, kamu wanita, tapi hari itu nampak seperti pria. Saya memaklumi apa yang dilakukannya dan hanya bisa mendukungnya. Setidaknya, saya bisa menemaninya menapaki waktu yang bergulir.

Sekitar pukul 01.00, kapal Jatra III tujuan Bakauheni barulah sandar. Kami menumpanginya, melewati lambung kapal yang biasa dilewati mobil-mobil ukuran jumbo. Jangan tanya kenapa, ini rahasia kami, termasuk bagaimana ia bisa bolak-balik naik kapal. Memangnya tidak bayar?hehehe.

Kapal itu sepi penumpang. ABK dan para sopir mendominasi. Ya ampun, jarang sekali ada wanita. Saya mengkhawatirkannya. Tapi ia sendiri nampaknya biasa-biasa saja.

Niatnya untuk menuntaskan misi, rupanya sia-sia. Orang yang diincarnya di kapal itu tak kelihatan batang hidungnya. Sudahlah lama-lama menunggu, tak jumpa pula. Tapi dibalik itu, saya merasa senang, karena bisa lebih lama bersamanya.hehe

Malam semakin larut. Di ruangan kapal lantai 2 itu kami beristirahat. Ruangan itu isinya lelaki, ia hanya perempuan seorang diri. Ia benar-benar lelah, saya memintanya istirahat. Ia tidur di kursi penumpang. Kasihan sekali. Saya menemaninya tidur (eitss… jangan berpikir kejauhan ya..he). Saya duduk di sampingnya, menggenggam tangannya (cuma itu lho).

Udara dingin sekali, melalui malam di kapal dengan kaos oblong. Tapi tak apalah, yang penting dia tidak kedinginan dengan jaket yang saya berikan. Ia nampak lelap, saya sesekali terbangun melihat sekitar. Maklum, yang ada saat itu semuanya lelaki yang tidak kami kenal.

Setelah 2,5 jam berlayar, kapal merapat di pelabuhan Bakauheni sekitar pukul 04.00. Saya membangunkannya. Haha…mukanya lucu sekali kalau bangun tidur (dasar tembem.. haha…jangan marah ya). Subuh di dermaga, kami dicegat para sopir travel yang menawari jasa tumpangan. Meski sudah menjawab tidak, sopir-sopir itu tetap memaksa.Hem…

Usai salat subuh di masjid pelabuhan, kami menuju pinggiran dermaga. Ia mengajak saya, katanya ada pemandangan bagus disana. Saya pun mengikutinya melihat sunrise. Pemandangan pagi itu indah. Langit begitu cerah kebiruan dengan awan putih yang gagah. Semakin indah, karena saya bersamanya.

Kami merasa terganggu dengan beberapa orang pelabuhan yang usil. Memarkir motornya didekat kami dan meledek. Ah, biarkan saja. Jangan pedulikan mereka. Kita nikmati saja sambil mengunyah roti.hehe

Huamm…, semalam saya tidak menikmati tidur. Saya kerap sekali terbangun, dan memastikannya tetap lelap. Pagi ini baru terasa ngantuk. Saya menyenderkan badan disampingnya di pinggiran laut. Wah…benar saja, saya ketiduran. Untung saja saya tak nyemplung ke laut.

Sekitar setengah jam saya tidur disampingnya, tapi ia tak mau membangunkan saya. Hey…suasana sudah ramai dengan aktivitas kapal yang bongkar muatan. Juga beberapa orang yang asik mancing. Sinar matahari juga tak lagi hangat. Kami pun pindah ketempat teduh.

Belum lagi sarapan nasi, kami sudah makan rambutan. Ia mengusir semut dirambutan dengan membanting-bantingnya ke aspal. Hem…galak amat. Ia mengajari saya cara mengupas buah rambutan yang benar. Meski sebenarnya lebih sulit diterapkan.hehe

Hingga pukul 11.00 kami menghabiskan waktu di pelabuhan Bakauheni. Misinya belum usai. Ia masih ingin menemui narasumber di dalam kapal. Baiklah. Niat saya yang ingin mengantarnya pulang, berbalik arah. Malah ia yang mengantar saya pulang.hehe.

Sekitar pukul 11.30 kami menumpang kapal menuju pelabuhan Merak. Perjalanan itu lebih banyak ia habiskan untuk menuntaskan misinya. Saya hanya bisa menemaninya.

Ia rupanya lupa melempar botol berisi harapan kami semalam. Di pinggiran kapal itu, saya menemaninya melempar botol ke laut, sambil berharap agar kami tetap bersama (Bagaimana nasib botol itu sekarang ya…)

Ditengah perjalanan, ia merasa tak enak badan. Kepalanya pusing, dan perutnya mual. Mungkin saja dia masuk angin. Saya memintanya untuk istirahat. Dan, ia tertidur (maaf saya telah mengganggu tidurmu, cuma ingin lebih merasakan kehadiramu).

Sekitar pukul 13.30 kapal mulai merapat di dermaga. Ya ampun begitu cepatnya waktu berlalu. Sungguh, saya ingin lebih lama lagi bersamanya. Saya menatapnya lebih lama. Benar-benar berat untuk melepas perjumpaan bersamanya. (Apakah ia merasakan hal yang sama…)

Saya tak tahu, kenapa tiba-tiba saya sulit mengutarakan kata perpisahan padanya. Saya hanya bisa menatapnya. Menyalami tangannya.

Waktu semakin memaksa saya untuk meninggalkannya dan harus kembali ke Jakarta. Minggu siang itu, kami menutup moment indah di dermaga. Perlahan menjauh darinya, melambaikan tangan. Lalu kembali menatapnya. Sampai jumpa sayang…terima kasih atas pertemuan itu. Sungguh, akan selalu kukenang. (make note’s on Tuesday 14 Feb ’12)*

Pusing? Mocca Obatnya


Sabtu pagi awal Oktober 2011. Bagi sebagian besar orang, boleh jadi hari ini waktunya untuk berlibur dari aktifitas kerja atau kuliah. Tapi tidak bagi saya yang mesti masuk kerja di hari libur, Sabtu dan Minggu. Saya kerja di sebuah majalah pariwisata dan gaya hidup di Lampung. Majalah bulanan ini terbilang baru, pertama kali terbit Oktober 2011.

Pagi itu, kondisi badan saya nggak fit. Kepala pusing berat. Saya memang biasa begadang, tapi nggak sampai membuat kepala saya pusing seperti ini. Saya lalu membeli obat sakit kepala di warung dan meminumnya, dengan harapan pusing dikelapa saya hilang.

Namun rupanya obat yang biasa saya minum kalau sedang sakit kepala nggak berpengaruh sama sekali. Karena tuntutan kerja, saya memaksakan diri untuk masuk kerja. Ditengah kondisi kepala yang pening, saya mengendarai sepeda motor menuju tempat kerja di wilayah Way Rarem Pahoman Bandarlampung.

Setelah menempuh perjalanan sekitar 30 menit, sampailah saya di kantor. Dengan lunglai, saya menyapa rekan-rekan yang sudah lebih dulu masuk kantor. Mereka menanyakan kondisi saya yang kelihatan tak bersemangat.

Saya bekerja dibagian desain tampilan majalah, yang tentunya membutuhkan ide-ide kreatif dan suasana pikiran yang tenang. Seperti biasa, setelah santai sejenak sambil menonton televisi, saya langsung mengotak-atik pekerjaan saya. Namun saya benar-benar nggak tahan dengan evek layar komputer yang semakin membuat pusing kepala saya.

Nah, saat itu saya melihat rekan saya membuat secangkir kopi mocca. Saya mencium aroma kafein yang aduhai, membuat saya tergoda untuk meminumnya. Tak berpikir lama, saya pun langsung menghampiri teman saya. Untungnya, ada sebungkus mocca yang tergeletak di meja dapur.

Saya lalu meraciknya sendiri. Sebungkus kopi mocca saya tuangkan ke dalam gelas. Sambil menunggu air dispenser panas, saya mencium arona kopi mocca. Wah nikmat aromanya…sesuatu banget. Dengan segelas air panas dari dispenser, saya menyeduhnya.

Dengan sumringah, saya kembali ke meja kerja dengan berteman segelas kopi mocca. Sambil kerja sambil ngopi. Anehnya, saya yang tadinya merasa pusing berat, merasa santai dan rileks setelah meminum beberapa teguk kopi mocca.

Pekerjaan saya mendesain tampilan majalah, berasa lebih gampang dikerjakan. So pasti, modalnya pikiran tenang, jiwa semangat karena efek kopi mocca. Nah, sekarang, kopi mocca bukan hanya menjadi obat dikala pusing. Kopi mocca sudah menjadi teman akrab saya saat bekerja, begadang, dan seusai bangun tidur.

Ketawa Bersama Kawan Persma


Selasa sore 18 Oktober 2011, benar-benar menjadi moment yang menyenangkan. Berkumpul dan bercanda bareng teman-teman Teknokra dan aktivis pers mahasiswa dari berbagai LPM di Sumatera. Semuanya mengikuti sesi game di sungai wira garden.

Mereka tergabung sebagai peserta Pelatihan Manajemen Website se Sumatera UKPM Teknokra. Ada LPM Kreatif (Univ. Medan), Aklamasi (Univ. Islam Riau), Bahana Mahasiswa (Univ. Riau), Teropong (Univ. Muhammadyah Medan), Ganto (UNP), Genta (Unand), Suara Kampus (IAIN Imam Bonjol),  Trotoar (Univ. Jambi), Detak (Universitas Syiah Kuala Aceh), Ukhuwah (IAIN Raden Fatah Palembang), Media Sriwijaya (Unsri Palembang), UMP (Univ. Muhammadyah Palembang), Kronika (STAI Metro), dan Digital (IBI Darmajaya  Bandar Lampung).

Saya sendiri kurang tau nama permainannya. Peserta dibagi dalam beberapa kelompok, masing-masing lima orang saling mengapit balon di dada. Setiap kelompok beradu cepat menuju garis finish.  Tak boleh ada balon yang lepas, atau pakai bantuan tangan.

Ada juga sesi bermain bola, yang tak jelas konsep permainanya. Asal tendang, asal kejar, berkerumun dan tak tahu mana kawan mana lawan. Yang paling seru, beberapa peserta yang terlanjur basah di sungai tak terima yang lain “berpangku kehangatan”. Dengan diam-diam mereka menarik satu persatu peserta maupun panitia untuk dijeburkan ke sungai. Tak pandang, itu pria atau wanita. Kurus atau gendut (jangan tersinggung ya…). Yang suka jingkrak ataupun yang pendiam. Semuanya larut dalam “kegilaan”. Nyaris semua yang hadir jadi korban penceburan ke sungai.

Jelang magrib, usai menggila, semuanya kembali ke cottage. Tak peduli tanjakan terjal, yang kuat berlari mengejar kamar mandi. Yang sampai duluan, tentu bisa mandi duluan. Sementara yang lain, ngantri sambil menahan dinginnya angin malam. Like this moment! regar

Konsep diri


Mengenal dan memahami diri sendiri ternyata lebih sulit daripada mengenal dan memahami orang lain. Yah, hal itulah yang selama ini saya alami. Saya lebih suka mempersepsikan dan menilai perilaku orang lain, sampai-sampai saya lupa dengan kepribadian dan perilaku saya sendiri. Jujur, saya kurang bisa menilai siapa diri saya. Bahkan ketika disuruh menyebutkan 5 kelebihan dan 5 kekurangan saya saja, Saya sudah angong duluan. Bener-bener gak tau diri.

Yah itulah saya, semoga hal separah ini gak dialami oleh yang baca tulisan ini. Konsep tentang diri lebih dominan saya dapatkan dari orang-orang terdekat saya seperti keluarga, dan teman-teman dekat. Persepsi mereka tentang saya, kemudian saya tampung dalam benak untuk kemudian saya jadikan modal dalam mempersepsikan diri saya. Dalam keluarga misalnya. Orang tua saya seringkali menganggap bahwa saya adalah sosok yang pendiam, tidak banyak bicara. Hal itu mereka dapatkan dari perilaku saya yang cenderung diam saat diajak bicara.

Mereka biasanya kesal dengan sikap saya yang cenderung tertutup. Terlebih ketika saya menginginkan sesuatu dan tidak mengkomunikasikanya dengan mereka. Saya biasanya canggung untuk mengkomunikasikan permasalahan saya dengan orang tua saya dan cenderung mengkomunikasikannya dengan teman-teman terdekat. Hal tersebut kemudian menjadi pemikiran tersendiri bagi saya. Saya menilai ada yang salah dengan prilaku saya yang cenderung tertutup dengan orang terdekat. Semestinya saya harus terbuka dengan orang tua saya karena walau bagaimanapun mereka lebih mengenal siapa diri saya ketimbang teman-teman.

*****

Konsep diri yang kemudian terlahir ialah kurang beraninya saya untuk mengatakan sesuatu dengan lawan jenis yang saya sukai. Saya seringnya menyukai seseorang namun tidak kuasa mengatakan kalau saya sebenarnya suka. Saya cenderung memendam perasaan saya, dan menutupnya rapat-rapat meskipun terkadang menyakitkan. Sebagai contoh, pada masa SMA, saya pernah Falling in love dengan teman dekat saya. Perasaan suka itu timbul, karena adanya factor kedekatan dan perhatian berlebih yang deberikannya kepada saya.

Saya sebenarnya sangat menyukai dia namun apalah daya saya tidak kuasa mengatakannya (cemen). Perasaan itu akhirnya saya pendam selama kurang lebih dua tahun. Dan selama itu pula saya merasakan peradangan yang begitu menyiksa dan menyakitkan hati saya. Meski sadar akan hal tersebut, namun tetap saja saya belum berani mengungkapkannya.

*****

Selama ini banyak diantara teman- teman dekat saya menilai bahwa saya adalah sosok yang suka marah-marah. Persepsi tersebut mereka dapatkan dengan melihat gaya berbicara saya dengan nada tinggi. Persepsi di atas membuat saya berupaya mengintrospeksi diri saya. Ada benarnya memang, meskipun tidak semuanya benar. Saya memang sering berbicara dengan nada tinggi meskipun dengan teman-teman saya. Hal tersebut akan lebih terlihat manakala saya berbeda pendapat dengan mereka.

Saya biasanya berupaya mempertahankan pendapat yang saya nilai benar dan terkadang lupa dengan status mereka sebagai teman dekat saya. Terkadang hal di atas membuat saya berbicara dengan nada yang tinggi dan membuat lawan bicara merasa terpojokkan yang menganggap bahwa saya sedang marah – marah dengannya. Hmm..egois kali ya…

Sebenarnya tidak demikian, saya hanya sedang berupaya mempertahankan argumen saya. Sebagai contoh, pada saat digelarnya diskusi dalam organisasi yang saya geluti. Saya terkadang berbeda opsi dengan rekan dekat saya. Namun opsi yang menurut saya benar akan berusaha saya pertahankan dengan upaya mengalahkan opsi dari rekan-rekan saya. Nada bicara yang tinggi, membuat mereka menyangka bahwa saya sedang marah dengan mereka. Namun tidak demikian, saya hanya mencoba memberikan apa yang menurut saya benar. Saya yakin ini adalah kebenaran dan rekan-rakan saya harus tau itu.

Akhirnya terjadilah perdebatan panjang..Dan seringnya saya menang. Tapi bukan kemenangan berdebat yang saya cari, melainkan menyamakan persepsi untuk kebaikan bersama. Hal di atas kemudian menjadi catatan tersendiri bagi saya dalam bersikap. Saya kemudian berupaya memperbaiki sikap saya terseb ut dengan upaya mengintrospeksi diri. Akhirnya saya sadar, meskipun tujuan saya baik namun ternyata cara yang saya tempuh terlalu seringnya salah di depan rekan-rekan saya. Nada bicara yang tinggi, menjadi penyebab utama timbulnya persepsi negative tentang saya, meskipun tidak demikian halnya.

Konsep tentang diri saya yang lain ialah adanya sikap malas. Saya sering kali memiliki keinginan berlebih untuk mendapatkan sesuatu. Namun lucunya saya tidak berupaya melakukan sesuatu untuk mendapatkan hal tersebut. Yang ada, saya hanya terlena dengan khayalan yang melambung tinggi namun kosong aplikasi. Saya sebenarnya sadar betul akan hal tersebut. Namun meski demikian sifat malas ternyata mampu menutupi semua keinginan saya.2 Saya seringkali merenungi kebodohan saya dan selalu bertanya pada diri sendiri, mana mungkin saya bisa mendapatkan sesuatu tanpa adanya upaya untuk mewujudkannya dengan perbuatan.

Hal ini kemudian menimbulkan persepi tersendiri yang cenderung negative terhadap diri saya. Saya cenderung terjebak dalam kurungan pola pikir yang menganggap diri saya tidak mampu untuk melakukan sesuatu seperti apa yang saya inginkan sebelumnya. Hmm.. itulah sekelumit konsep diri tentang saya. Hmm..aneh ya ama diri sendiri aja gak kenal.. Gimana dengn anda? apakh anda bernasib sama?

Moment with Arbain Rambey


Foto bersama Arbain Rambey usai kunjungan di Taman Kupu-kupu Gita Persada, Kemiling Bandar Lampung, Senin (4/4). Dari kiri pepy, alvin, arbain rambey, reno, virda, ima.

Makan malam bersama Arbain Rambey di Cafe Digger’s Minggu malam (3/4).

Foto bareng peserta rally photo season 5 sekaligus peserta coaching clinik fotografi dengan Arbain Rambey sebagai pemateri dan juri lomba, di Pondok Kelapa, Minggu (3/4).

Temani Hunting. Arbain Rambey tengah memoto ulat, cikal bakal kupu-kupu di lokasi penangkaran kupu-kupu Gita Persada.

Foto di rumah pohon Taman Kupu-kupu Gita Persada, Senin (4/4).  Bawah, Alvin, Arbain Rambey (tengah), virda dan pepy (atas).

Menulis Rasa


Apa yang ku rasain saat ini ga pernah terbayang sebelumnya. Aku dulu, adalah aku bagi kebanyakan orang disekitarku.

Ya…sangat jauh berbeda dengan aku yang saat ini, dari pada awal mereka mengenalku. Aku dulu begitu akrab, hangat dan riang bersama teman2ku. Mereka mengisi kesehariannku dengan canda, tawa, duka.

Aku masih sangat ingat saat ku jalani kebersamaan dengan mereka. Saat menjalani kisah pahit dan senang. Semuanya larut dalam kebersamaan.

Wuuuusssshhh…….
Angin itu bertiup dan meniupku…
Mengajakku untuk berpikir tentang siapa aku. Harus seperti apakah aku.

Kakiku mulai melangkah. Perlahan beranjak dari kerianganku. Terasa berat memang. Tapi tak apalah ku jalani dulu.

Waktu terus bergulir sayu…perlahan tapi pasti.
Aku bertemu dengan kehidupan baru. Kehidupan yang tak pernah terjamah sebelumnya. Suasana yang kadang menyiksaku.

Menyiksa??…
Ya..menyiksa keceriaanku bersama teman-teman dekatku. Menyiksa waktuku. Kesehariannku.

Menyiksa??? Lupakan itu….
Aku tak boleh larut dalam kebodohanku. Biarlah itu sekedar melintas.

Teman…berat rasanya ketika ku harus memilih semua ini. Memilih untuk sedikit pergi dari kehidupan kalian. Memilih untuk tidak mengecewakan kalian. Memilih sebenarnya untuk membanggakan kalian. Aku adalah aku.Aku harus punya sesuatu, dan kalian harus bangga terhadapku. Aku tetaplah aku yang dulu. Maaf….

Pyuuuhhh…sedikit kulupakan semua itu.
Aku bagai terhipnotis dengan kehidupan baruku. Tak tau kenapa. Yang jelas semuanya kunikmati. Bosan, pongah, pengat, ah…biarlah berlalu. Itu tak sebanding dengan keceriaan dan rasa tau yang aku dapat. Semua itu kunikmati.

Ini gila. Kenapa aku harus menyiksa diriku. Membiarkan keringatku mengucur. Badan bergetar, kulit terbakar sang raja siang. Kenapa mataku masih terbelalak disaat semua mata redup. Kenapa aku harus berbohong pada diriku. Aku lelah.

Tidak pikirku. Aku memang lelah tapi mereka tak boleh tau tentang itu. Aku ingin mereka melihatku tegar. Aku ingin jadi penyemangat bagi mereka. Aku ingin ini menjadi catatan hidupku. Ingin ini menjadi jembatanku. Jembatan menuju aku…aku yang sebenarnya ku tak tahu kan seperti apa. Namun inilah proses. Aku butuh proses bukan hasil. Hasil biarlah nanti…tunggulah aku menjalani proses ini..baru akan aku tunjukkan siapa aku.

Bahasa Indonesia, Inkonsistensi?


Saya tergelak membaca tulisan Putu Setia (redaktur senior majalah Tempo) di kolom bahasa majalah Tempo edisi 31 Januari – 6 Februari 2011. Putu menyoal penggunaan kata-kata dalam bahasa Indonesia yang multi tafsir. Tulisan yang ia beri judul “Dulu, Lalu Merumput” itu berseloroh tentang laku bahasa ED Zoelverdi—mantan wartawan Tempo berjuluk Mat Kodak senior.

ED menulis di akun facebooknya: “KUIS PILIHAN. Segepok duit halal di meja, di sampingnya ada wanita ayu. Jika anda diberi kesempatan memilih, mana yang duluan anda pilih: duit dulu atau wanita ayu dulu.”Komentar status pun bermunculan. Ada yang pilih duit dulu, ada juga yang pilih wanita ayu dulu, dengan berbagai alasan yang merujuk pada logika umum percakapan sehari-hari.

ED boleh dikata menjebak— untuk memulai perdebatan. Ia memberi kuis yang sebenarnya ditujukan untuk memaknai pertanyaannya—soal bahasa yang mengampu pada kata “dulu”. Dalam kamus besar bahasa Indonesia (KBBI) edisi keempat, kata dulu merujuk pada kata dahulu yang bermakna; masa lampau, lebih awal;paling depan, yang mula-mula, lebih awal.

Di kuis ini, ED lebih memilih makna pertama dari kata “dahulu” sebagai yang telah lalu. Hasilnya, “duit dulu” ditafsir sebagai duit di masa lalu yang kini tak terpakai, dan “wanita ayu dulu” sekarang sudah jadi nenek yang keriput. Tentu tak ada yang salah soal pemaknaan si pemberi kuis atau pun yang menjawab. Keduanya sama-sama berpedoman pada makna kata yang berhulu pada KBBI. Namun yang menjadi soal, tafsir penggunaan kata bahasa Indonesia ini bisa jadi menyesatkan bila kita tak jeli memaknainya.

Bahasa tentu menjadi elemen penting budaya. Dalam konteks komunikasi, ia menjadi alat penyampai pesan yang utama agar pesan itu benar-benar sampai pada komunikan. Indikasinya, salah bahasa, baik secara harfiah ataupun pengucapan, bisa berimbas pada salah pemaknaan hingga berujung pada persepsi yang melenceng.

Saban terbitan, Tempo selalu mengulas ragam bahasa Indonesia yang menyindir penggunaan dan pemaknaan kata. Menyitir tulisan Toriq Hadad juga dalam majalah Tempo, kata “merumput” dengan tegas disinggung tak layak disematkan untuk manusia. Toriq menyinggung pemakain kata “merumput” yang akrab disematkan pada pemain sepak bola.

Dalam KBBI edisi ketiga “merumput” dimaknai “bermain aktif (tentang pemain sepak bola)”. Apa soal? Kata “merumput” kalau ditilik ternyata berpeluang punya makna ganda. Ia tidak hanya bermain dalam ranah persepakbolaan. Toriq mengambil contoh judul berita yang diterbitkan Kompas.com pada 11 Juli 2009 “Batistuta Kembali Merumput”.

Pembaca mengira Batistuta sebagai pesebakbola yang kembali aktif bermain bola. Toh kata “merumput “ bukan menafsir Batistuta sebagai pemain bola karena ia memang pemain polo—penunggang kuda. Selain pemaknaan yang keliru, kata “merumput” juga lebih layak disematkan untuk binatang. Untuk itu Toriq membumbui tulisannya dengan judul tegas: “Karena Kita Bukan Sapi”.

Kata “lalu”, dan “merumput” hanyalah sebagian kecil dari sekian banyak kata-kata yang punya multi tafsir. Kita boleh bangga, dengan menganggap hal ini sebagai kekayaan bahasa. Tapi kita tak boleh lupa, bahwa bahasa juga lekat dengan makna yang harus dipahami oleh si pemakainya. Tujuannya tak lain, agar tercapai kesamaan persepsi dalam proses berdialektika.

Penggunaan bahasa Indonesia yang multi tafsir memang membuat rumit pemakainya. Kita pun, sebagai manusia yang terlahir memangku bahasa nenek moyang, belepotan dalam memahami tata bahasa. Terlebih bagi orang-orang asing yang ingin belajar bahasa Indonesia. Wajar bila orang asing sulit paham, karena seyogyanya mereka hanyalah pendatang dalam kerajaan bahasa Indonesia yang rumit. Lantas, bagaimana dengan kita, yang asli orang Indonesia?

Putu Setia dalam sebuah jawaban pertanyaan seorang teman dari India; apakah setiap kata yang hidup di masyarakat akan ditampung dalam kamus—dan karena itu menjadi sah sebagai kata yang resmi digunakan? Putu berkilah, “Saya juga tak paham karena saya hanya pemakai bahasa Indonesia, bukan ahlinya”.

Kekinian, bahasa Indonesia memang tengah mengalami dilematis konsep tata bahasa. Penyebabnya, hegemoni bahasa asing yang berlebih dan penyusupan bahasa daerah yang difiltrasi menjadi bahasa baku. Perbendaharaan kata menjadi bejibun dengan segala makna tafsirnya.

Yang jadi masalah, masyarakat tak terlalu siap untuk menerima. Jangankan untuk memahami makna, mendengarnya pun kedengarannya asing. Menyitir ungkapan Benedict Anderson, bahasa Indonesia sudah kehilangan etos “revolusioner”nya. Ia tertimpa proses penghalusan sehingga dinamik yang semula menandainya kini tak ada lagi.

Wittgenstein (1983) menyoal hakikat makna bahasa bukan terdapat dalam bahasa atau penuturnya, melainkan terdapat dalam kehidupan manusia itu sendiri. Pernyataan ini menegaskan, kalau makna bahasa akan lahir dari realitas kehidupan sosial atau pergaulan.

Tapi tak lantas, seperti kata Putu Setia, setiap kata yang hidup di tengah masyarakat—dengan alasan biarkan bahasa itu berkembang dinamis—harus “dikamuskan”. Kalau begitu, nanti kata lebay akan masuk, juga kata gayus yang berarti sukses (“Kerja dulu biar cepat gayus, baru kawin.”)*

Relativisme dan Tafsir Kebenaran


Kita tentu miris menyaksikan tragedi penyerangan hingga berujung pembunuhan jama’ah Ahmadiyah beberapa waktu lalu di Cikeusik Pandeglang Banten. Terlepas soal dogma, ini masalah yang menyangkut nilai-nilai kemanusiaan. Semua tentu ngeri dengan laku anarkisme sejumlah oknum yang menghakimi manusia dengan brutal. Apalagi bertindak atas nama agama. Ini tentu sebuah penodaan, karena toh, tak semua pengampu agama Islam sepakat dengan jalan kekerasan. Malah sebaliknya, menyitir ungkapan para politisi, mengutuk tindakan tak manusiawi itu.

Yang jadi masalah, para oknum itu meyakini apa yang mereka lakukan sebagai sesuatu yang benar. Kebenaran yang diampu oleh komunitas anggotanya, bukan atas nama kebenaran yang universal mengenai ajaran Islam itu sendiri. Saya lalu merujuknya pada apa yang disebut sebagai  kebenaran relativisme.

Istilah relativisme lekat dengan teori filsafat dan ilmu-ilmu sosial yang dianut pemikir barat hingga menjadi faham budaya orang-orang barat. Ia lahir pada abad ke lima sebelum Masehi. Pencetusnya Protagoras dari Yunani. Substansinya, tak ada standar universal bagi kebenaran. Ia bak virus yang menjangkiti pemikiran manusia di berbagai belahan dunia begitu halnya negara ini.

Faham relativisme menyebut tak adanya standar pasti yang membedakan antara benar dan salah, baik dan buruk, karena semua penilaian bersifat relatif atau nisbi. Para penganut ekstrem teori ini menisbatkan relativitas penilaian pada individu, kultur dan budaya kelompok tertentu termasuk di dalamnya soal keyakinan, gaya hidup, bahasa, kebiasaan, tradisi, seni, peninggalan dan sebagainya. Apa yang dinilai sebagai sesuatu yang benar dan baik, adalah benar dan baik bagi diri dan kelompoknya sendiri, walaupun orang lain berselisih paham. Ia juga menjadi manhaj hidup yang dimiliki oleh masyarakat tertentu dalam periode sejarah tertentu.

Faham ini juga jadi cermin atas budaya orang-orang barat yang nyeleneh. Gaya hidup modern, sek bebas dan tata cara berpakaian merupakan sesuatu yang mengusik nilai-nilai budaya orang timur. Orang-orang barat beranggapan budaya yang mereka anut sebagai sesuatu yang benar. Tak peduli orang mencibir adanya penyimpangan pada nilai-nilai etis manusia. Mereka toh tetap cuek atas nama kebebasan yang mengampu pada pembenaran komunitasnya.

Yang jadi soal, dalam faham relativisme, komunitas pemilik budaya tertentu tak berhak menghakimi pemilik budaya lain. Sebab setiap budaya harus dinilai berdasarkan standar penilaian internal masing-masing budaya, bukan dengan standar penilaian budaya lain.

Lantas bagaimana dengan budaya atau perilaku yang mengarah pada penyimpangan? Sebut saja soal aksi brutal beberapa oknum terhadap jama’ah Ahmadiyah yang memakan korban, atau laku ekstrim lainnya sekelas terorisme, pencurian, pemerkosaan dan sebagainya yang berdiri atas tindakan yang mereka anggap benar. Masihkah kita memakluminya sebagai sesuatu yang lumrah terjadi?

Dr. Ja’far Syeikh Idris menyinggung dalam tulisannya “Relativisme Kebenaran” jika orang-orang Eskimo, misalnya berpendapat, seorang suami yang rela meminjamkan istrinya untuk orang lain merupakan sebuah kemurahan hati, atau sebagian masyarakat terbiasa membunuh bayi, atau membunuh orang jompo karena dianggap tidak produktif lagi, dengan standar apa kita akan mengingkari tindakan mereka?

Menurut Ja’far sesungguhnya manusia punya nilai-nilai moral dan perilaku tertentu yang disepakati bersama terlepas dari perbedaan budaya, waktu dan tempat tertentu. Nilai-nilai tersebut seperti dusta,  pembunuhan, pemerkosaan, tidak adil dalam perlakuan, pencurian dan lain sebagainya, tergolong kejahatan bagi seluruh masyarakat. Sebaliknya Kejujuran, keadilan,keberanian, nilai-nilai moral adalah kebaikan yang diakui seluruh umat manusia. Artinya ada nilai yang dianggap sebagai kebenaran yang mutlak bukan nisbi.

Atas nilai-nilai kemanusiaan, mengapa tidak menisbatkan kebenaran atas kesaksian indra, prinsip-prinsip logika, atau bahkan alasan-alasan absurd yang masih bisa didiskusikan,bukan pada keinginan individu dan budaya tertentu. Nilai-nilai kebenaran mutlak bisa muncul manakala ada kesamaan persepsi soal kebenaran yang dipahami secara seksama.

Pada prinsipnya, teori kebenaran relativisme tak bisa dijadikan sebagai sandaran yang universal, meski pada hal-hal tertentu ia memang berlaku dan semua orang sepakat bahwa hal itu relatif. Misal soal tinggi badan. Orang pendek di Sudan Selatan bisa jadi dianggap tinggi di Indonesia. Atau soal kebenaran sebuah teori, ia bisa jadi benar pada masanya dan absurd atau tak berlaku di masa lain. Yang patut ditekankan, tak ada pembenaran atas perilaku penyimpangan dengan mengatasnamakan budaya dan komunitas yang menistakan nilai-nilai moral dan prinsip-prinsip logika manusia.*