Konsep diri adalah bagaimana kita mengenal, menilai dan mampu mempersepsikan diri kita dalam kondisi tertentu
Mengenal dan memahami diri sendiri ternyata lebih sulit daripada mengenal dan memahami orang lain. Yah, hal itulah yang selama ini saya alami. Saya lebih suka mempersepsikan dan menilai perilaku orang lain, sampai-sampai saya lupa dengan kepribadian dan perilaku saya sendiri.
Jujur, saya kurang bisa menilai siapa diri saya. Bahkan ketika disuruh menyebutkan 5 kelebihan dan 5 kekurangan saya saja, Saya sudah angong duluan. Bener-bener gak tau diri. Yah itulah saya, semoga hal separah ini gak dialami oleh yang baca tulisan ini. Konsep tentang diri lebih dominan saya dapatkan dari orang-orang terdekat saya seperti keluarga, dan teman-teman dekat. Persepsi mereka tentang saya, kemudian saya tampung dalam benak untuk kemudian saya jadikan modal dalam mempersepsikan diri saya.
Dalam keluarga misalnya. Orang tua saya seringkali menganggap bahwa saya adalah sosok yang pendiam, tidak banyak bicara. Hal itu mereka dapatkan dari perilaku saya yang cenderung diam saat diajak bicara.
Mereka biasanya kesal dengan sikap saya yang cenderung tertutup. Terlebih ketika saya menginginkan sesuatu dan tidak mengkomunikasikanya dengan mereka. Saya biasanya canggung untuk mengkomunikasikan permasalahan saya dengan orang tua saya dan cenderung mengkomunikasikannya dengan teman-teman terdekat.
Hal tersebut kemudian menjadi pemikiran tersendiri bagi saya. Saya menilai ada yang salah dengan prilaku saya yang cenderung tertutup dengan orang terdekat. Semestinya saya harus terbuka dengan orang tua saya karena walau bagaimanapun mereka lebih mengenal siapa diri saya ketimbang teman-teman.
*****
Konsep diri yang kemudian terlahir ialah kurang beraninya saya untuk mengatakan sesuatu dengan lawan jenis yang saya sukai. Saya seringnya menyukai seseorang namun tidak kuasa mengatakan kalau saya sebenarnya suka. Saya cenderung memendam perasaan saya, dan menutupnya rapat-rapat meskipun terkadang menyakitkan.
Sebagai contoh, pada masa SMA, saya pernah Falling in love dengan teman dekat saya. Perasaan suka itu timbul, karena adanya factor kedekatan dan perhatian berlebih yang deberikannya kepada saya. Saya sebenarnya sangat menyukai dia namun apalah daya saya tidak kuasa mengatakannya (cemen).
Perasaan itu akhirnya saya pendam selama kurang lebih dua tahun. Dan selama itu pula saya merasakan peradangan yang begitu menyiksa dan menyakitkan hati saya. Meski sadar akan hal tersebut, namun tetap saja saya belum berani mengungkapkannya.
*****
Selama ini banyak diantara teman- teman dekat saya menilai bahwa saya adalah sosok yang suka marah-marah. Persepsi tersebut mereka dapatkan dengan melihat gaya berbicara saya dengan nada tinggi.
Persepsi di atas membuat saya berupaya mengintrospeksi diri saya. Ada benarnya memang, meskipun tidak semuanya benar. Saya memang sering berbicara dengan nada tinggi meskipun dengan teman-teman saya.
Hal tersebut akan lebih terlihat manakala saya berbeda pendapat dengan mereka. Saya biasanya berupaya mempertahankan pendapat yang saya nilai benar dan terkadang lupa dengan status mereka sebagai teman dekat saya.
Terkadang hal di atas membuat saya berbicara dengan nada yang tinggi dan membuat lawan bicara merasa terpojokkan yang menganggap bahwa saya sedang marah – marah dengannya. Hmm..egois kali ya…
Sebenarnya tidak demikian, saya hanya sedang berupaya mempertahankan argumen saya. Sebagai contoh, pada saat digelarnya diskusi dalam organisasi yang saya geluti.
Saya terkadang berbeda opsi dengan rekan dekat saya. Namun opsi yang menurut saya benar akan berusaha saya pertahankan dengan upaya mengalahkan opsi dari rekan-rekan saya. Nada bicara yang tinggi, membuat mereka menyangka bahwa saya sedang marah dengan mereka.
Namun tidak demikian, saya hanya mencoba memberikan apa yang menurut saya benar. Saya yakin ini adalah kebenaran dan rekan-rakan saya harus tau itu. Akhirnya terjadilah perdebatan panjang..Dan seringnya saya menang. Tapi bukan kemenangan berdebat yang saya cari, melainkan menyamakan persepsi untuk kebaikan bersama.
Hal di atas kemudian menjadi catatan tersendiri bagi saya dalam bersikap. Saya kemudian berupaya memperbaiki sikap saya terseb ut dengan upaya mengintrospeksi diri.
Akhirnya saya sadar, meskipun tujuan saya baik namun ternyata cara yang saya tempuh terlalu seringnya salah di depan rekan-rekan saya. Nada bicara yang tinggi, menjadi penyebab utama timbulnya persepsi negative tentang saya, meskipun tidak demikian halnya.
Konsep tentang diri saya yang lain ialah adanya sikap malas. Saya sering kali memiliki keinginan berlebih untuk mendapatkan sesuatu. Namun lucunya saya tidak berupaya melakukan sesuatu untuk mendapatkan hal tersebut. Yang ada, saya hanya terlena dengan khayalan yang melambung tinggi namun kosong aplikasi.
Saya sebenarnya sadar betul akan hal tersebut. Namun meski demikian sifat malas ternyata mampu menutupi semua keinginan saya. Saya seringkali merenungi kebodohan saya dan selalu bertanya pada diri sendiri, mana mungkin saya bisa mendapatkan sesuatu tanpa adanya upaya untuk mewujudkannya dengan perbuatan.
Hal ini kemudian menimbulkan persepi tersendiri yang cenderung negative terhadap diri saya. Saya cenderung terjebak dalam kurungan pola pikir yang menganggap diri saya tidak mampu untuk melakukan sesuatu seperti apa yang saya inginkan sebelumnya.
Hmm.. itulah sekelumit konsep diri tentang saya. Hmm..aneh ya ama diri sendiri aja gak kenal..
Gimana dengn anda? apakh anda bernasib sama?







